Persiapan dan Produksi Video Shooting

jasa editing video wonogiri

A. Teori Dasar Pembikinan Film/Video

Apa Itu Film ????
Film ialah gambar-hidup, kerap disebutkan movie atau video (sebelumnya pelesetan untuk
‘berpindah gambar’). Film, secara kelompok, kerap disebutkan ‘sinema’. Gambar-hidup ialah wujud seni,
wujud terkenal dari selingan, dan usaha, yang dimainkan oleh beberapa tokoh sama sesuai watak
direkam dari benda/lensa (camera)atau animasi.

Beberapa dasar Produksi Film
Menerangkan tingkatan produksi sebuah film, deskripsi kerja dalam team produksi, dan
management produksi. Materi meliputi: Membuat team produksi; Menyortir crew (kru) dan Hal yang
harus dipersiapkan dalam produksi film.

Penulisan dan Penyutradaraan
Menguraikan beberapa dasar penulisan narasi untuk pembikinan film, pengaturan penelitian untuk film
dokumenter, dan implementasi pembikinan skenario, director treatment, shotlist, script breakdown dan
tembakan skedul. Materi meliputi: Penulisan, Penyutradaraan pada tahapan Pra Produksi, Produksi,
dan Paska Produksi.

Sinematografi
Menerangkan mengenai operasionalisasi camera secara baik dan langkah perawatannya,
proses alat rekaman yang bisa hasilkan gambar dan suara secara baik, dan mempertajam ide
untuk beradaptasi dengan kebatasan alat. Materi meliputi: Beberapa dasar sinematografi,
Pengenalan tehnologi camera, Tehnik ambil gambar, Tata sinar, dan Pengaturan camera
saat produksi.

Tata Suara
Merinci beberapa dasar audio di proses produksi film, baik yang sudah dilakukan saat
alat rekaman suara saat ambil gambar, atau keperluan pengisian suara saat saat
produksi. Materi meliputi: Diskusi, Musik, dan Dampak suara

Tata Artistik
Menerangkan beberapa tugas yang perlu dilaksanakan oleh departemen artistik dan
mengimplementasikan skenario dan director treatment jadi breakdown artistik. Materi meliputi: Tata
baju, Tata dandan, Sisi set, Property, dan Dampak special

Koreksi
Menerangkan proses koreksi, teori dasar koreksi, operasionalisasi komputer untuk koreksi.
Memberikan pengetahuan mengenai sudut pandang koreksi pada tiap tahapan produksi film dan implementasi
ide koreksi (paper ubah). Materi meliputi: Sepintas mengenai koreksi, Tingkatan koreksi, dan Istilah
tehnis koreksi.

Dokumentasi dan Dokumenter
Menerangkan dasar pembuatan, pengendalian dan pendayagunaan dokumentasi berdasar
objek dan keperluannya. Menerangkan apakah itu visual proposal dan hubungannya dengan pengendalian
kearifan budaya. Materi meliputi: Sepintas mengenai dokumentasi dan dokumenter, Bagaimanakah cara
kerja dokumentasi, dan Film dokumenter sebagai alat pengendalian kearifan budaya

B. Tahapan Pra Produksi
Design Produksi
Pada tahapan design produksi ditetapkan arah produksi, penetapan sasaran-target, pengaturan
crew, skeduling project, dan lain-lain. Tidak ada rumusan yang betul-betul baku pada tahapan
design produksi ini, dan fleksibel bergantung rasio project produksi. Pada intinya, design produksi
adalah tahapan penjabaran project sebegitu rupa dalam semua aspeknya hingga nantinya di akhir
project menjadi referensi, apa project produksi yang sudah digerakkan sudah penuhi kaidahkaidah
yang sudah diputuskan.

Arah Produksi
Misalkan, gagasan produksi “profile video perusahaan ABCD” dirumuskan arah produksinya
untuk memberinya sepintas pandang perusahaan itu di mana produk yang nantinya dibuat akan
dibagi ke beberapa client perusahaan dan beberapa prospect client. Arah produksi ini dapat
diuraikan lebih detail menurut konsep arah komunikasi, di mana dalam komunikasi
minimal ada 5 faktor yang perlu jadi perhatian, yakni komunikator, komunikan (audiens), materi
komunikasi (pesan yang akan dikatakan), media komunikasi, dan langkah pendistribusian pesan.
Arah produksi dapat secara detil menyebutkan arah-tujuan tertentu, misalkan : arah
ikuti festival film Indie, arah komersil, arah presentasi, dll. Bahkan juga untuk sebuah arah
uji cobatal juga, seharusnya dilaksanakan pendefinisian supaya pendefinisian arah produksi ini nantinya bisa
digunakan sebagai referensi saat menulis jurnal/penilaian aktivitas.
Penetapan Sasaran-target
Ini masih erat berkaitan dengan pendefinisian arah di atas, tetapi dengan menggunakan tanda
yang lebih terarah. Misalkan, sasaran kesuksesan pengutaraan pesan, sasaran perolehan keuangan,
sasaran perolehan kualitas gambar, sasaran jumlah audience, dll.

Pengaturan Crew
Berlainan dengan produksi film komersil (apa lagi film Hollywood) yang ditangani oleh
banyak crew dengan pekerjaan dan ketrampilan masing-masing, satu home video bisa ditangani oleh
satu team kecil dengan pekerjaan serba rangkap. Beberapa faktor tugas penting adalah produser,
penulisan skenario, penyutradaraan, cameramen, penerangan, make-up dan wardrobe, penata
artisitik dan koreksi. Tidak jadi masalah dengan kebatasan sumberdaya manusia yang bisa terkumpul
dalam crew produksi, yang lebih bernilai adalah ada kepastian masalah pembagian pekerjaan dan deskripsi
job semasing. Misalkan bisa berupa team kecil beranggotakan tiga orang, di mana seorang
berperanan rangkap sebagai produser/penulis skenario/penyutradaraan, seorang sebagai
cameramen/editor, dan seorang sebagai lighting man/penata artistik. Keterangan lebih komplet
mengenai formasi crew yang lebih bagus, click di sini.

Skeduling Project
Skeduling project memegan peran yang sangat penting dalam perolehan efektifitas dan
efektivitas produksi, khususnya aktivitas produksi (tembakan video) di mana turut serta banyak sumberdaya
manusia, pemain dan perlengkapan tembakan video yang dipakai. Baiknya, satu ambil
gambar sudah diperkirakan dan direncanakan pada tenggang saat yang cukup awalnya hingga
seluruh pihak yang turut serta dalam tembakan video itu bisa menyiapkan diri secara baik
untuk menjalankan peranan/pekerjaannya masing-masing, yang mengikutsertakan persiapan psikis, pikiran dan
perlengkapan. Skeduling project sangat bermanfaat untuk seluruh pihak yang turut serta dalam produksi video
untuk menghitung seberapa jauh perkembangan satu project pada saat tertentu, agar lakukan
penilaian project jalan.

Pembikinan Skenario
Pembikinan skenario, walau wajarnya dilaksanakan pada proses produksi film komersil,
tetapi bisa diadaptasi untuk proses pembikinan produk visual-audio yang lain dengan rekonsilasi
sekedarnya. Ini bisa saja karena film dibikin untuk sampaikan pesan komunikasi secara
visual, seperti di sini kita akan membuat beberapa produk video sebagai media untuk
sampaikan pesan komunikasi. Beberapa prinsip umum berikut ini nantinya akan diulas kembali secara
singkat langkah aplikasinya dalam kerangka produksi masing-masing produk video pada bagian macam
produksi.

Empat faktor dalam penulisan skenario :

  1. Ide narasi, dirumuskan dalam sebuah kalimat tunggal yang menerangkan figur khusus dalam
    film dan apa yang ingin dibuat atau diperjuangkannya.
  2. Watakisasi (perwatakan), yakni beberapa tokoh yang turut serta dalam narasi. Tiap figur diterangkan
    watak dasarnya dengan penekanan keterangan pada beberapa tokoh khusus. Ketidaksamaan watak
    ini akan mainkan peran penting yang mendasari bagaimana tiap figur berlaku
    dan melakukan tindakan mengenai satu rumor/permasalahan. Seperti kita kenali, satu kelompok manusia bisa
    berlaku dan bertindak yang serupa walau masing-masing mempunyai pemikiran/motivasi
    yang lain. Kebalikannya, satu kelompok manusia bisa berlaku dan bertindak yang
    berlainan walau mempunyai kemiripan pemikiran/motivasi. Dengan begitu bisa dimengerti jika
    gabungan watak dan rumor yang unik bisa melahirkan narasi yang memikat.
  3. Jalur cerita; serangkaian peristiwa dan hubungan dengan watak. Bagaimana peristiwa untuk
    peristiwa dirangkai jadi satu narasi akan sangat tentukan kesuksesan terhubungnya narasi
    yang memikat. Contoh : sebuah film yang dimulai episode pembunuhan sadis oleh seorang
    pada korbannya yang “tidak bersalah” akan memunculkan rasa ingin tahu penonton, daripada
    bila terlebih dahulu diperlihatkan gambar peristiwa yang menyuguhkan bukti jika pada periode kecilnya sang
    pembunuh itu sering mendapatkan penganiayaan dari orangtuanya hingga dia menanggung derita
    abnormalitas jiwa. Untuk memancing proses inovatif dalam membuat jalan cerita, bisa disodorkan
    beberapa pertanyaan berikut : “bagaimana bila hal jelek ini terjadi, yakni hal yang menghadang
    usaha figur khusus capai maksudnya? bagaimana juga bila terjadi hal-hal lain kembali?” Peristiwa
    untuk peristiwa ini harus juga bisa membuat emosi penonton, misalkan karena secara
    berganti-gantian episode-adegan peristiwanya memiliki kandungan kemelut, tawa dan airmata.
  4. Perancangan episode per episode; serangkaian gagasan ambil gambar yang mencakup diskusi,
    akting, set property, seting lokasi, dll. Bisa secara mudah dipikirkan mengenai satu narasi
    yang mempunyai ide narasi, watakisasi dan jalan cerita yang memikat, tetapi lalu usai
    jadi film yang jelek karena kekurangan diskusi, akting, seting lokasi dan property?
    Penulis skenario yang eksper juga belum pasti bisa menulis skenario “sekali jadi”.
    Yang wajar terjadi adalah dibikinnya “draft skenario” untuk selanjutnya didalami kembali untuk memperoleh
    beberapa ide pendamping untuk finising pembikinan skenario itu. Bahkan juga untuk skenario yang telah
    jadi juga, berlangsungnya koreksi skenario sebagai hal yang wajar terjadi. Beberapa pertanyaan berikut
    ini harus diperhitungkan saat menulis skenario, baik tahapan awalnya atau tahapan kelanjutan :
    Siapa yang punyai narasi ini? Figur khusus dengan rumor dasarnya harus terang, tidak boleh
    sampai figur simpatisan mempunyai watakisasi semakin kuat dengan rumor yang lebih menarik.
    Dari pemikiran narasi siapa film akan dibikin, apa dari figur khusus, atau faksi kedua
    (orang yang dibawa berkomunikasi langsung oleh figur utama), atau dari faksi ketiga yang memperhatikan figur
    khusus di luar.

Di mana baiknya episode akan bermula, di mana juga akan usai?
Apa beberapa poin dari setiap episode yang direncanakan, akan ke arah mana?
Apa info paling penting yang dibutuhkan penonton dari satu episode tertentu?
Apa episode tertentu betul-betul terkait dengan narasi, dan gerakkan narasi
ke arah akhir? Bila tidak, episode ini mempunyai potensi “melambankan narasi” dan memunculkan kebosanan
ke penonton.

Selalu ingat jika episode adalah bahasa gambar. Baiknya, gambar murni yang tanpa
diskusi bisa sampaikan pesan komunikasi yang akan dikatakan.
Selalu ingat untuk “memproses gambar”, “membuat perselisihan”, dan “membaur emosi”
Bagaimana membuat keterikatan yang memikat antara satu episode dengan episode yang lain?
Apa terjadi pengulangan episode? Episode yang betul-betul sama sudah pasti nyaris
tidak mungkin terjadi. Yang ditujukan di sini adalah berlangsungnya beberapa episode yang sebetulnya
memiliki kandungan pesan komunikasi yang serupa/sama. Saat penonton menyaksikan satu episode lalu sukses
tangkap pesannya, lalu padanya disuguhi episode yang lain untuknya punyai pesan yang
sama dengan episode awalnya. Sudah pasti dia bisa menjadi jemu.
Apa episode datar (kurang perselisihan, kurang emosi, kurang info)? Bila ya, bagaimana
triknya supaya muncul satu yang menegangkan atau luarbiasa terjadi, bahkan juga dari “beberapa hal yang remeh atau
biasa?”

C. Tahapan Paska Produksi
Sesudah tembakan video dikerjakan, tingkatan selanjutnya adalah Paska Produksi yang
elemen tugas intinya adalah koreksi video. Berikut beberapa peranan dalam tingkatan ini :

Peranan Koreksi Video
Peranan koreksi video meliputi capture video, koreksi, dan outputting. Pada capture video,
hasil video tembakan yang masih juga dalam wujud tape ditransfer ke wujud file computer lewat
proses video capture. Walau kemungkinan dijumpai jika banyak hasil tembakan yang tidak sesuai dengan
dengan tuntutan skenario (misalkan karena episode tidak berhasil, atau test shooting), ialah kelaziman
untuk meng-capture dahulu semua hasil rekaman ke computer untuk diedit setelah itu. Diolah koreksi
video berikut dilaksanakan pemangkasan, penyeleksian dan pengaturan ulangi gambar, supaya sesuai
tuntutan skenario. Sesudah diperlengkapi dengan tugas sound, animasi, visual dampak dll dan
dipandang usai, proses koreksi juga disudahi dengan outputting, yakni export ke pola file tertentu
yang diharapkan untuk proses seterusnya.

Peranan Sound
Peranan sound bisa dirangkap dengan seorang editor video, tetapi baiknya dilaksanakan secara
tertentu dengan seorang yang mumpuni di bagian ini. Peranan sound mencakup beberapa kepentingan
berikut : pembikinan musik contoh, pembikinan sound dampak, dan sound recording (untuk kepentingan
dubbing cerita).

Peranan Gambar Koreksi
Untuk kepentingan koreksi video, kerap dibutuhkan komponen grafis pendukung misalkan untuk
kepentingan contoh dan pembikinan gelar. Tugas gambar koreksi sangat kemungkinan dirangkap oleh
seorang editor video atau dapat dilaksanakan olah pakarnya, di mana editor cuman terima input
gambar itu untuk selanjutnya diproses dalam project koreksi videonya.

Peranan Animasi dan Visual Dampak
Project koreksi video dapat mengikutsertakan tugas animasi dan visual dampak. Sisi video
yang berbentuk animasi/visual dampak sebagai clip video memiliki durasi tertentu yang dipertambah pada
project video koreksi sebelumnya setelah disiapkan/dibikin secara eksklusif dalam project
animasi/visual dampak. Tugas pembikinan animasi/visual dampak ini dapat ditangani secara berbarengan
bertepatan dengan proses koreksi, oleh orang yang lain. Sedang animasi/visual dampak
simpel sering bisa ditangani dengan seorang editor video dengan memakai software
koreksi videonya itu.

Peranan Distribusi
Produk video yang sudah dibikin kemungkinan seterusnya akan dialokasikan ke penonton
yang disebut sasaran komunikasi dari produk video itu. Sesudah proses koreksi video
hasilkan pola file tertentu, file ini selanjutnya bisa diolah lanjut dalam usaha pembikinan
vcd/dvd supaya nantinya bisa digandakan dan dialokasikan secara massal.
Ulasan seterusnya mengenai beberapa fungsi kerja proses Paska Produksi, ada di
sisi Koreksi Video, Drawing, Gambar Koreksi, Sound Koreksi, Animasi, Visual Dampak, CD/DVD.

Leave a Reply

Your email address will not be published.